OPINI: Ada orang yang lahir dalam kenyamanan, ada pula yang tumbuh di tengah ujian yang datang silih berganti. Namun sejarah sering mencatat bahwa pribadi-pribadi yang kuat justru lahir dari perjuangan yang tidak biasa. Kisah Abi Maryo Lahargu Amra adalah potret tentang keteguhan iman, keberanian mempertahankan keyakinan, dan perjalanan panjang seorang anak yang memilih jalan terjal demi menjaga akidahnya.
Lahir di Kendari pada 14 Maret 2004, Abi merupakan anak ketiga dari empat bersaudara. Masa kecilnya berubah ketika kedua orang tuanya berpisah saat usianya baru menginjak sembilan tahun. Perpisahan itu bukan sekadar perpecahan rumah tangga, tetapi menjadi awal dari ujian hidup yang kelak membentuk karakter dan prinsip hidupnya.
Dalam perjalanan waktu, keluarganya mengalami perubahan besar. Ibunya memilih keyakinan yang berbeda dan berupaya mengajak anak-anaknya mengikuti jalan yang sama. Di usia yang masih sangat muda, Abi dihadapkan pada pilihan yang tidak semestinya dipikul oleh seorang anak.
Di satu sisi ada keluarga yang dicintainya. Di sisi lain ada keyakinan yang telah tertanam dalam hatinya.
Tekanan demi tekanan datang menghampiri. Namun di tengah situasi yang sulit itu, Abi memilih bertahan pada keyakinan yang diyakininya sebagai kebenaran. Keputusan tersebut bukan tanpa konsekuensi. Ia harus menghadapi kesendirian, keterbatasan, bahkan menjalani hari-hari yang berat demi mempertahankan prinsip hidupnya.
Saat sebagian anak seusianya menikmati masa remaja dengan penuh keceriaan, Abi justru belajar bertahan hidup. Ia memilih menanggung berbagai kesulitan daripada menggadaikan keyakinan yang telah diyakininya. Baginya, iman bukan sekadar identitas, melainkan nilai yang harus dijaga meski harus dibayar dengan pengorbanan.
Perjalanan itu membawanya pada fase kehidupan yang keras. Ia pernah merasakan hidup dengan segala keterbatasan, berjuang sendiri, dan menghadapi ketidakpastian masa depan. Namun justru dari jalan panjang penuh ujian itulah lahir keteguhan yang kelak menjadi fondasi kehidupannya.
Di bangku SMP, sebuah kesadaran besar hadir dalam dirinya. Ia menyadari bahwa dirinya belum mampu membaca Al-Qur’an dengan baik. Kesadaran itu menjadi titik balik yang mengubah arah hidupnya.
Dengan tekad yang kuat, ia mulai belajar mengaji dari nol. Tidak ada latar belakang pendidikan agama yang istimewa. Tidak ada kemudahan yang langsung datang menghampiri. Yang ada hanyalah keinginan kuat untuk lebih dekat kepada Allah dan memahami agamanya dengan lebih baik.
Hidayah itu perlahan mengubah hidupnya.
Dari seorang remaja yang berjuang mencari arah, Abi tumbuh menjadi pribadi yang haus akan ilmu. Ketika memasuki jenjang SMA, ia tidak hanya belajar di sekolah, tetapi juga bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup dan membiayai pendidikannya sendiri.
Siang digunakan untuk belajar, sementara waktu luang dimanfaatkan untuk bekerja. Hidup mengajarkannya bahwa tidak ada keberhasilan yang datang tanpa pengorbanan.
Setelah lulus SMA, ia memilih bekerja selama dua tahun. Hingga suatu hari datang sebuah kesempatan yang mengubah masa depannya: tawaran menempuh pendidikan di Sekolah Da’i dengan beasiswa penuh.
Kesempatan itu diterimanya dengan penuh syukur. Di tempat itulah Abi memperdalam ilmu agama, memperkuat pemahaman keislaman, dan mempersiapkan diri untuk menjadi bagian dari mereka yang mengajak manusia menuju kebaikan.
Setelah menyelesaikan pendidikan, ia mendapat amanah berdakwah ke sebuah pulau yang saat itu asing baginya: Wawonii.
Perjalanan menuju pulau tersebut bahkan menjadi pengalaman pertamanya menaiki kapal laut. Namun dari perjalanan sederhana itulah Allah membukakan jalan pengabdian yang luas.
Di Tanah Wawonii, Abi mengabdikan dirinya untuk mengajar, membina masyarakat, dan menyebarkan ilmu agama. Dari masjid ke masjid, dari majelis ke majelis, ia menjalankan tugas dakwah dengan penuh kesungguhan.
Ironisnya, dahulu ia adalah seorang anak yang berjuang mempertahankan Islam dalam kehidupannya sendiri. Kini ia justru menjadi orang yang membantu orang lain mengenal dan mencintai Islam lebih dalam.
Wawonii tidak hanya menjadi tempat pengabdiannya, tetapi juga menjadi saksi kebahagiaan yang Allah hadirkan dalam hidupnya. Di tanah itulah ia dipertemukan dengan pasangan hidup yang kini mendampinginya dalam perjuangan dakwah.
Kisah Abi Maryo Lahargu Amra bukan sekadar cerita tentang seorang dai muda. Ini adalah kisah tentang seorang anak yang memilih mempertahankan keyakinannya ketika keadaan menuntutnya untuk menyerah. Kisah tentang bagaimana ujian hidup dapat melahirkan keteguhan, dan bagaimana luka masa lalu dapat berubah menjadi cahaya yang menerangi jalan banyak orang.
Perjalanannya mengajarkan bahwa iman terkadang menuntut keberanian. Bahwa mempertahankan prinsip sering kali membutuhkan pengorbanan. Dan bahwa pertolongan Allah selalu datang kepada mereka yang tetap teguh di jalan-Nya.
Hari ini, Abi berdiri bukan sebagai korban keadaan, melainkan sebagai bukti bahwa siapa pun yang menjaga agamanya dengan sungguh-sungguh, akan menemukan jalan yang telah Allah siapkan.
Dari seorang anak yang pernah menghadapi pilihan hidup yang berat, kini ia menjadi penebar ilmu dan penyala harapan. Sebuah perjalanan yang menunjukkan bahwa cahaya terbesar sering kali lahir dari mereka yang pernah berjalan dalam gelap, tetapi memilih tetap berpegang pada petunjuk Allah.***







Komentar