Harianpublik.id,Bombana – Sebaran kabut asap yang diprakirakan melanda wilayah Kabupaten Bombana mulai dikeluhkan warga pesisir. Tak hanya berpotensi mengganggu aktivitas masyarakat di daratan, kondisi tersebut juga menyulitkan nelayan di Desa Lora saat kembali dari melaut akibat terbatasnya jarak pandang.
Keluhan itu disampaikan salah seorang warga Desa Lora. Ia mengungkapkan, kabut asap yang menyelimuti wilayah perairan terkadang membuat nelayan kesulitan menentukan arah pulang karena daratan tidak terlihat jelas.
“Kalau pulang dari melaut, nelayan kadang tidak tahu arah pulang karena kabut atau asap. Akhirnya, kami menggunakan GPS untuk mengetahui arah,” ungkapnya.
Kondisi tersebut menjadi perhatian karena nelayan harus menghadapi risiko saat berlayar dengan jarak pandang terbatas. Daratan maupun pulau yang biasanya menjadi patokan perjalanan bisa sulit dikenali ketika asap semakin tebal.
Keluhan nelayan ini sejalan dengan informasi dalam imbauan yang mengacu pada siaran pers Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Kelas II Maritim Kendari tertanggal 12 Oktober 2026.
Dalam informasi tersebut, Kabupaten Bombana masuk dalam wilayah yang berpotensi mengalami sebaran asap pada 13–14 Oktober 2026 dengan kategori sedang. Sebaran asap di Sulawesi Tenggara disebut tidak hanya bersumber dari kebakaran di wilayah setempat, tetapi juga berpotensi terbawa dari luar daerah, termasuk Papua Selatan dan Maluku.
BMKG juga mengingatkan bahwa kabut asap di sejumlah wilayah Sulawesi Tenggara dapat menyebabkan jarak pandang berkurang hingga kurang dari lima kilometer. Kondisi tersebut berpotensi mengganggu aktivitas masyarakat, termasuk perjalanan di darat maupun laut.
Menanggapi potensi sebaran asap tersebut, Pemerintah Kabupaten Bombana melalui imbauan Bupati Bombana, Ir. H. Burhanuddin, M.Si., mengajak masyarakat meningkatkan kewaspadaan serta menjaga kesehatan selama kondisi kabut asap berlangsung.
Dalam imbauannya yang merujuk informasi BMKG tersebut, masyarakat diminta menggunakan masker ketika beraktivitas di luar ruangan, memperbanyak konsumsi air putih, serta menutup jendela saat asap terasa pekat.
Kelompok rentan, seperti anak-anak, lansia, ibu hamil, dan masyarakat yang memiliki gangguan pernapasan, juga disarankan mengurangi aktivitas di luar ruangan.
Imbauan itu turut ditujukan kepada pengguna jalan, transportasi laut, dan penerbangan agar mewaspadai penurunan jarak pandang. Masyarakat juga diminta terus memantau informasi resmi dari BMKG dan instansi terkait.
Bagi nelayan Desa Lora, jarak pandang yang terbatas bukan sekadar mengganggu kenyamanan, tetapi juga menyangkut keselamatan selama perjalanan di laut. Penggunaan Global Positioning System (GPS) menjadi salah satu andalan untuk membantu mengetahui posisi dan arah ketika penanda daratan tidak terlihat.
Nelayan diharapkan memastikan perangkat navigasi berfungsi dengan baik sebelum berangkat, meningkatkan kewaspadaan selama pelayaran, serta mempertimbangkan kondisi cuaca dan jarak pandang sebelum memutuskan melaut.
Pemerintah daerah juga mengingatkan pentingnya kewaspadaan terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Masyarakat diharapkan ikut mencegah kebakaran agar dampak sebaran asap tidak semakin meluas dan mengganggu kesehatan maupun aktivitas warga.
Dengan adanya imbauan tersebut, masyarakat pesisir, khususnya nelayan di Desa Lora, diharapkan lebih berhati-hati dalam menjalankan aktivitas di laut hingga kondisi jarak pandang kembali membaik. (**)
Penulis: Ismi Azizah







Komentar