Kasus HIV di Sultra Terus Meningkat, Generasi Muda Jadi Kelompok Paling Rentan

HarianPublik.id,Kendari — Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) mengungkapkan bahwa jumlah kasus HIV di Sultra terus mengalami peningkatan, dengan generasi muda menjadi kelompok paling rentan terdampak.

Hal tersebut disampaikan oleh Dinas Kesehatan Provinsi Sultra melalui Chintya Devi Oktovianus, S.Si, M.Kes, dalam kegiatan Hari AIDS Sedunia Tahun 2025 yang mengusung tema “Bersama Hadapi Perubahan, Jaga Keberlanjutan Layanan HIV, Generasi Muda Bebas HIV”. Kegiatan tersebut digelar di Aula Bahtiar, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Halu Oleo (UHO) pada Kamis, 18 Desember 2025.

Chintya mengungkapkan, sejak tahun 2011 hingga Oktober 2025, jumlah kasus HIV kumulatif di Sulawesi Tenggara telah mencapai 3.095 kasus.

“Kalau untuk peningkatan kasus, dari 2011 sampai Oktober 2025 jumlah kasus kumulatif yang kita temukan sebanyak 3.095 kasus. Untuk tahun 2025 sendiri, Januari sampai Oktober ada 490 kasus baru, dan yang tertinggi berada di Kota Kendari,” ujarnya.

Ia menjelaskan, semua kabupaten/kota menjadi perhatian karena seluruhnya sudah memiliki kasus HIV. Namun, terdapat tiga wilayah dengan lonjakan kasus paling tinggi.

“Seluruh 17 kabupaten dan kota di Sulawesi Tenggara saat ini telah memiliki kasus HIV. Tetapi yang peningkatannya cukup drastis itu ada di Kota Kendari, Kolaka, dan Muna,” jelasnya.

Lebih lanjut, Chintya menyoroti bahwa generasi muda kini menjadi kelompok paling rentan. Bahkan, kasus HIV telah ditemukan pada usia yang sangat muda.

“Di kalangan mahasiswa, bahkan usia 15 tahun, kita sudah menemukan adanya kasus positif. Jadi, generasi yang paling rentan saat ini adalah generasi muda,” katanya.

Menurutnya, tantangan terbesar dalam penanggulangan HIV di Sultra adalah masih banyaknya kasus yang belum terdeteksi. Ia mengibaratkan kondisi tersebut seperti fenomena gunung es, di mana kasus yang terlihat hanyalah sebagian kecil dari jumlah sebenarnya.

“Kita belum tahu populasi mana saja yang sudah HIV positif tetapi belum terjangkau layanan. Kita baru menemukan puncaknya saja, sementara bagian dalamnya belum,” ungkapnya.

Oleh karena itu, Dinas Kesehatan terus mendorong masyarakat, khususnya mereka yang memiliki perilaku berisiko, untuk melakukan skrining dan tes HIV secara rutin di fasilitas pelayanan kesehatan (faskes).

Dalam kesempatan tersebut, Chintya juga menyampaikan pesan kepada masyarakat Sulawesi Tenggara agar terus mengedepankan upaya pencegahan melalui konsep ABCD, yakni Abstinens (tidak melakukan hubungan seksual di luar nikah), Be faithful (setia pada pasangan), Condom (menggunakan kondom bagi perilaku berisiko), dan Drugs (tidak menggunakan narkoba suntik).

“Edukasi seperti ini penting agar masyarakat memahami bagaimana penularan HIV sebenarnya, serta bagaimana kita merespons saudara-saudara kita yang sudah terdampak HIV,” tambahnya.

Ia menegaskan bahwa orang dengan HIV (ODHIV) dapat tetap hidup normal dan produktif selama menjalani pengobatan secara rutin serta mendapatkan dukungan sosial dari lingkungan sekitar.

“Dengan pengobatan yang rutin, mereka bisa beraktivitas sama seperti kita, yang terpenting adalah bagaimana kita merangkul mereka, bukan menjauhi,” tutupnya. (**)

Reporter: Malika

Komentar