PT Almhariq Disorot, Fakta di Balik Longsor Kabaena Mulai Terungkap

Harianpublik.id,Bombana – Peristiwa longsor yang terjadi di wilayah Olondoro, Desa Rahadopi, Kecamatan Kabaena, Kabupaten Bombana, menyeret nama PT Almhariq ke dalam sorotan publik. Berbagai dugaan bermunculan, sebagian mengaitkan kejadian tersebut dengan aktivitas pertambangan yang berlangsung di kawasan itu.

Namun di tengah derasnya opini yang berkembang, sejumlah fakta di lapangan mulai terungkap dan memberikan gambaran yang lebih utuh terkait penyebab longsor tersebut.

Kepala Teknik Tambang (KTT) PT Almhariq, Yazid, menegaskan bahwa faktor utama pemicu longsor adalah tingginya curah hujan dalam beberapa waktu terakhir. Menurutnya, intensitas hujan yang tinggi membuat tanah menjadi jenuh air sehingga kehilangan daya ikat dan mudah bergerak, terutama di area dengan kemiringan.

“Air yang masuk ke dalam tanah akan meningkatkan beban sekaligus melemahkan struktur tanah. Kondisi ini sangat rawan memicu longsor, khususnya di wilayah lereng,” jelas Yazid.

Ia juga mengungkapkan bahwa kejadian serupa pernah terjadi pada Juni 2025, bahkan saat perusahaan tidak sedang beroperasi. Lokasi longsor disebut berada di sisi badan jalan, bukan di area pit tambang.

“Ini menunjukkan bahwa pola kejadian lebih mengarah pada faktor alam. Bahkan saat tidak ada aktivitas tambang, longsor tetap terjadi di titik yang sama,” tambahnya.

Selain itu, Yazid turut menanggapi isu yang berkembang terkait dampak longsor terhadap sumber mata air warga. Ia memastikan bahwa sumber mata air tidak terdampak, karena jaraknya cukup jauh dari lokasi longsor.

“Jaraknya sekitar 500 meter dari titik kejadian. Yang terdampak hanya pipa milik penyedia jasa air bersih, bukan sumber mata airnya,” ujarnya.

Ia juga menyoroti adanya perbedaan kondisi di lapangan saat penanganan longsor terbaru. Berdasarkan dokumentasi yang beredar, posisi pipa terlihat berada di atas permukaan tanah, berbeda dengan kondisi sebelumnya yang tertanam di bawah tanah.

“Kami melihat ada perbedaan kondisi yang cukup mencolok. Ini tentu menjadi perhatian kami dan perlu ditelusuri lebih lanjut,” kata Yazid.

Lebih jauh, Yazid mengungkapkan adanya kendala saat proses penanganan di lapangan. Ia menyebut, alat berat milik perusahaan sempat dihentikan oleh sejumlah oknum tanpa alasan yang jelas, meskipun di lokasi yang sama terdapat alat berat lain yang tetap beroperasi.

“Ada oknum yang mencoba menghentikan aktivitas penanganan, padahal kami sedang berupaya mempercepat pemulihan. Situasi seperti ini tentu sangat disayangkan,” ungkapnya.

Ia bahkan menduga ada pihak-pihak tertentu yang mencoba mengambil keuntungan di tengah situasi tersebut dengan memanfaatkan kondisi longsor untuk menyudutkan perusahaan.

“Kami berharap semua pihak bisa melihat persoalan ini secara objektif dan tidak mengambil kesempatan dalam kesempitan,” tegasnya.

Di sisi lain, hasil peninjauan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Bombana pada 27 Maret 2026 menunjukkan bahwa kondisi mata air di wilayah tersebut masih jernih dan tidak ditemukan endapan lumpur akibat longsor.

Sumber air yang digunakan masyarakat di sejumlah wilayah seperti Teomokole, Rahampuu, Sikeli, Baliara, Baliara Selatan hingga Desa Langkema juga dilaporkan tetap dalam kondisi baik.

Saat ini, PT Almhariq telah menurunkan tim serta alat berat untuk melakukan penanganan di lokasi longsor, serta berkoordinasi dengan pemerintah Desa Rahadopi guna memastikan proses pemulihan berjalan lancar.

Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa di tengah kondisi cuaca ekstrem, potensi bencana alam seperti longsor dapat meningkat. Di sisi lain, penting bagi semua pihak untuk menyikapi informasi secara bijak agar tidak menimbulkan kesimpangsiuran di tengah masyarakat. (**)

Reporter: Ismi Azizah 

Komentar