Harianpublik.id – Sebuah jalan biasanya hanya menyelesaikan satu urusan: mengantar orang dari satu tempat ke tempat lain. Tidak lebih.
Namun Bay Pass Langara pelan-pelan membantah anggapan itu.
Menjelang petang, laju kendaraan melambat. Beberapa pengendara menepi. Ada yang berdiri bersandar pada motornya, ada yang duduk memandang laut. Mereka tidak sedang menunggu siapa pun. Mereka sedang memberi waktu kepada dirinya sendiri.
Di kota-kota yang tumbuh cepat, ruang seperti ini sering kali lahir bukan dari rancangan, melainkan dari kebiasaan. Orang-orang menemukannya lebih dulu, baru kemudian menyadari bahwa tempat itu telah menjadi bagian dari hidup mereka.
Bay Pass Langara kini tampaknya sedang menjalani proses itu.
Jalan yang dibangun untuk memperlancar mobilitas perlahan menjelma menjadi ruang jeda. Di sana, kesibukan seharian seolah berhenti sejenak. Langit yang berubah jingga, angin dari laut, dan garis cakrawala menghadirkan kemewahan yang tidak membutuhkan tiket masuk.
Dewi, aparatur sipil negara di Kementerian Agama, mengaku hampir selalu menyempatkan diri berhenti sebelum pulang.
“Ini sangat bagus. Jadi sepulang kantor kami bisa menikmati senja setiap hari di Kota Langara,” ujarnya.
Barangkali, ukuran sebuah kota yang nyaman bukan semata-mata berapa kilometer jalan yang berhasil dibangun. Ada ukuran lain yang lebih sunyi: apakah kota itu masih menyediakan ruang bagi warganya untuk berhenti, memandang langit, dan pulang dengan hati yang sedikit lebih ringan.
Ketika matahari tenggelam di ufuk barat, Bay Pass Langara kembali menjadi jalan seperti sedia kala. Tetapi bagi mereka yang singgah setiap sore, tempat itu telah menjelma menjadi lebih dari sekadar infrastruktur. Ia adalah ruang tempat hari ditutup dengan tenang—dan esok dimulai dengan harapan baru. (**)
Penulis: Redaksi







Komentar