Harianpublik,Bombana – Langit sore di Lapangan Lere’ea, Kecamatan Kabaena Barat, tiba-tiba menjadi saksi bisu peristiwa memilukan. Di tengah riuh perayaan HUT ke-80 Kemerdekaan RI, seorang atlet volly asal Desa Baliara, Kamrin, menghembuskan napas terakhirnya, pada 12 Agustus 2025.
Dengan jersey bernomor punggung 7, ia berdiri tegap, meski tubuhnya tidak sepenuhnya sehat. Riwayat jantung yang dideritanya sudah membuat keluarga, panitia dan timnya melarangnya turun ke lapangan. Namun, Kamrin tak gentar. Baginya, pertandingan ini bukan sekadar olahraga, melainkan bentuk pengabdian.
“Saya yakin kalau saya ikut, kita pasti menang,” katanya lantang kepada rekan-rekannya, sesaat sebelum pertandingan dimulai.
Dan benar, Kamrin bermain penuh semangat. Ia berlari, melompat, dan menatap bola dengan tekad membara. Hingga tibalah satu momen, smash keras dari tangannya melesat ke arah lawan. Pukulan terakhir, yang sekaligus menjadi tanda perpisahan. Beberapa detik kemudian, tubuhnya rebah di tanah, tak lagi bergerak.
Kekacauan seketika pecah di lapangan. Rekan-rekan berusaha memberi pertolongan, dan setelah ambulans datang, Kamrin segera dilarikan ke Puskesmas. Namun, takdir berkata lain, sesampainya di sana, ia dinyatakan telah meninggal dunia.
Namun, Kamrin pergi tidak sebagai pecundang. Ia gugur di lapangan, dengan kepala tegak, seperti pejuang yang rela mengorbankan dirinya demi tim dan desanya.
Camat Kabaena Barat, Musmuliadi menyebutnya sebagai sosok penuh keberanian. “Semangatnya luar biasa. Meski sakit, dia tetap ingin bertanding. Itu tekad seorang pejuang sejati,” ucapnya kepada Media Harianpublik, pada Minggu, (17/8).
Di rumah duka, keluarga mencoba menerima dengan ikhlas. Ada air mata, tapi juga rasa syukur.
“Kami bersyukur dia pergi di darat, bukan di laut. Dengan begini, kami bisa merawat dan mengantarnya dengan layak,” ujar salah satu keluarga dengan suara bergetar.
Santunan duka diserahkan pemerintah kecamatan, namun penghormatan sesungguhnya datang dari hati masyarakat. Bagi warga Desa Baliara, Kamrin bukan hanya atlet. Ia adalah pahlawan kecil olahraga desa, yang gugur di medan laga sederhana, bertepatan dengan hari bangsa mengenang perjuangan kemerdekaan.
Smash terakhirnya kini abadi sebagai simbol pengorbanan. Seperti para pahlawan bangsa yang rela berjuang demi merah putih, Kamrin pun rela mengorbankan dirinya demi kebanggaan tim dan desanya.
Ia mungkin telah tiada, namun semangatnya tetap hidup, mengajarkan bahwa perjuangan tidak selalu di medan perang, tetapi juga bisa lahir dari lapangan sederhana, di mana seorang anak desa bernama Kamrin gugur, membawa cinta, tekad, dan keberanian hingga ke ujung hayatnya. (**)
Penulis: Ismi Azizah







Komentar