FISIP UHO Kirim Tiga Mahasiswa KKN di Semenanjung Malaysia

Harianpublik.id,Kendari – Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Haluoleo (UHO) secara resmi melaksanakan acara pelepasan tiga mahasiswa terbaiknya untuk mengikuti program Kuliah Kerja Nyata (KKN) tingkat internasional di Semenanjung Malaysia, pada Kamis, 13 November 2025.

Program ini menjadi kali pertama bagi UHO mengirim mahasiswa KKN ke luar negeri yang bekerjasama dengan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Malaysia.

Tiga peserta KKN yang diutus berasal dari FISIP UHO, yaitu Asgar Malik dari Jurusan Ilmu Politik dan Pemerintahan (Prodi Ilmu Politik), serta Adam dan Indra dari Jurusan Ilmu Administrasi (Prodi Ilmu Administrasi Negara dan Administrasi Bisnis). Bersama sekitar enam puluh peserta dari berbagai universitas lain, termasuk Universitas Islam Aceh, Universitas Pendidikan Indonesia Sumenep, UIN Sumatera Utara, Universitas Darul Jana, IAIN Kebumen, dan Sekolah Tinggi Agama Islam Ma’ruf Sampang, mahasiswa UHO akan mengikuti KKN Semenanjung Malaysia periode November – Desember.

La Taya, S.I.Kom., M.A.P., menyampaikan dirinya merasa bangga terhadap mahasiswa UHO karena dapat kesempatan bisa bersaing di kancah global untuk menunjukkan jati diri mereka. “Kualitas mereka tidak kalah saing dengan universitas – universitas lain yang ada di Indonesia. Untuk bisa menunjukkan kemudian bisa mengabdi pada negara di bidang pendidikan, misalnya pembelajaran bagi anak-anak tingkat pendidikan usia dini dan sekolah dasar yang berada di luar negeri,” ungkapnya.

Ketua Unit Jaminan Mutu dan Sistem Informasi, La Taya menjelaskan bahwa proses persiapan mahasiswa hingga finalisasi keberangkatan memakan waktu kurang lebih satu sampai dua bulan. KKN ini memiliki fokus yang berbeda dari KKN pada umumnya, yaitu KKN khusus pada bidang pembelajaran.

Kata dia, pengabdian ini tidak ditempatkan di kantor-kantor pemerintahan atau dunia industri seperti KKN sosial politik atau humaniora, melainkan di sekolah-sekolah.

“Lokasi pengabdian adalah di Sekolah Indonesia Kuala Lumpur (SIKL) dan khususnya di Sanggar Belajar yang direkomendasikan oleh SIKL. Sanggar Belajar ini penting karena menampung anak-anak imigran Indonesia yang tidak dapat bersekolah di SIKL karena kendala jarak dan masalah dokumen kewarganegaraan atau imigrasi,” jelasnya.

Anak-anak imigran ini, yang masih tercatat sebagai Warga Negara Indonesia (WNI) namun tinggal di luar negeri, sering terkendala dengan dokumen resmi. Mereka tidak bisa masuk ke sekolah formal di Malaysia kecuali melalui kelas internasional, sementara mereka adalah anak-anak imigran yang tidak memiliki dokumen yang diakui sebagai warga negara Malaysia.

Tiga mahasiswa KKN UHO ini akan menghadapi tantangan unik. Dimana mereka harus mengajar meskipun bidang ilmu mereka bukan di ranah lingua neora atau bidang kependidikan yang sama. Mereka sudah mendapatkan jadwal dari pengurus sanggar di Klan Lama Sahabat Al-Qur’an dan akan mengajar mulai hari Senin hingga Jumat.
Jadwal mengajar mereka mencakup tiga kelas, yaitu satu kelas PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) dan sisanya adalah kelas 1 sampai kelas 5 SD. Berbagai materi yang akan diajarkan meliputi menulis, menghafal Al-Qur’an, tata cara salat Dhuha, serta penggunaan media pembelajaran yang sarat akan budaya Indonesia.

“Intinya adalah permainan-permainan tradisional yang bisa diajarkan pada anak-anak imigran yang berada di Malaysia. Sehingga misalnya rasa cinta tanah air kemudian dalam hal ini nasionalisme mereka tidak pudar meski mereka misalnya berada di luar Indonesia khususnya di Malaysia,” tutur La Taya.

Contoh media pembelajaran yang akan digunakan adalah permainan (gaming) yang memanfaatkan permen tradisional dari Indonesia, misalnya dari Sulawesi atau daerah lain.

Sebagai Aparatur Sipil Negara di bawah Kementerian Pendidikan, Riset, Sains, dan Teknologi, La Taya menambahkan, tugas untuk mengembangkan pendidikan dan pengabdian merupakan salah satu tugas penting. Meskipun ini adalah KKN internasional pertama bagi UHO, sebelumnya UHO telah rutin melaksanakan KKN reguler, tematik, dan Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM).

Olehnya itu, ia berharap kedepan tidak hanya Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik saja yang mengirimkan perwakilan, tetapi juga fakultas-fakultas lain dapat berpartisipasi dalam pengabdian internasional ini, sesuai dengan bidang keilmuan masing-masing, untuk terus mengembangkan pendidikan dan mengharumkan nama UHO di kancah global. (**)

Reporter: Nabila

Komentar