Pesona Gaun Dari Klobot Tampil Memukau di Festival Budaya Bombana 2024

HarianPublik.id,Bombana – Festival Budaya Bombana 2024 dengan tema “Harmoni Keberagaman Budaya Bombana” telah resmi Penjabat (Pj) Bupati, Edy Suharmanto, di Ruang Terbuka Hijau (RTH) MTQ Bombana, pada Selasa (17/12/2024). Tak hanya menjadi sorotan publik, iven ini menjadi momentum penting untuk memperkenalkan sekaligus melestarikan kekayaan budaya yang ada di daerah itu.

Gelaran dalam rangka menyemarakkan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-21 Bombana ini disuguhkan dengan berbagai pesona Budaya dari seluruh wilayah atau kecamatan se Kabupaten Bombana. Tak terkecuali Kecamatan Kabaena.

Pasalnya, Kecamatan Kabaena tampil memukau dengan memadukan kreativitas modern dengan nilai-nilai kearifan lokal. Bagaimana tidak, keindahan gaun peri yang terbuat dari klobot atau kulit jagung menarik perhatian dalam festival ini.

Dalam balutan keindahan dan keanggunan, gaun ini memancarkan simbol kecintaan pada budaya sekaligus seruan untuk menjaga warisan leluhur.

Di tangan para perajin kreatif Kabaena, kulit jagung yang sering diabaikan disulap menjadi mahakarya. Setiap helainya dipilih dengan teliti, dirajut, dan dirangkai hingga membentuk gaun yang tampak lembut, alami, dan elegan. Warna khas klobot, putih kekuningan, memancarkan keindahan sederhana yang harmonis dengan alam.

Di depan panggung utama, seorang wanita tampil mengenakan gaun peri tersebut dengan penuh percaya diri. Langkahnya yang anggun dan senyumnya yang memukau sehingga membuat penonton terpana, dan suasana festival seketika penuh semangat apresiasi terhadap seni tradisional.

Camat Kabaena, Agus Salam, mengungkapkan bahwa gaun dari klobot ini memiliki makna mendalam, mengingatkan masyarakat Bombana tentang pentingnya jagung sebagai salah satu sumber pangan utama di masa lalu. Pulau Kabaena, yang dahulu terkenal dengan hasil perkebunan jagungnya, kini mulai kehilangan tradisi tersebut akibat peralihan ke sektor ekonomi lain.

“Kami menghadirkan karya ini untuk mengingatkan kembali bahwa jagung pernah menjadi simbol kehidupan bagi masyarakat kami,” ujar Agus Salam.

Ia juga menyoroti tantangan yang dihadapi para perajin dalam membuat gaun ini, mulai dari sulitnya mendapatkan kulit jagung hingga proses pembuatannya yang membutuhkan kesabaran tinggi.
Kemunduran potensi jagung di Pulau Kabaena menjadi perhatian serius.

Menurutnya, saat ini hanya segelintir petani yang masih menanam jagung, sementara banyak lahan mulai dialihfungsikan. Kondisi ini tidak hanya memengaruhi sektor pangan, tetapi juga menyulitkan pelaku usaha lokal seperti pembuat gula kelapa, yang membutuhkan jagung dalam proses produksinya.

“Maka dari itu, kami berharap pemerintah dapat memberikan perhatian khusus untuk mendorong kembali perkebunan jagung di Kabaena. Selain sebagai upaya menjaga tradisi, ini juga penting untuk memperkuat ketahanan pangan daerah,” tegas Agus.

Kecamatan Kabaena dengan inovasi gaun klobotnya telah mengajarkan bahwa budaya lokal memiliki potensi besar untuk terus hidup dan berkembang, asalkan diberi ruang dan perhatian. (**)

Penulis: Ismi Azizah

Komentar