HarianPublik.id,Kendari–Deputi Kepala Wilayah Sulawesi Tenggara PT Bursa Efek Indonesia (BEI), Ricky, menyampaikan bahwa program Bank Sampah FISIP UHO tidak hanya mendorong pengelolaan sampah bernilai ekonomi, tetapi juga mengarahkan keuntungan yang diperoleh untuk dikelola melalui instrumen investasi pasar modal.
Hal itu disampaikan pada Seminar Enviropreneur bertema “Mengubah Sampah Menjadi Uang” yang digelar Galeri Investasi FISIP UHO, Kamis (20/11/2025). Ia menekankan bahwa investasi kini tidak lagi memerlukan modal besar, sehingga mahasiswa bisa belajar sejak dini.
“Sampah yang dikumpulkan menjadi uang, dan uang itu idealnya tidak habis untuk hal konsumtif, tapi dikelola di pasar modal,” ujarnya.
Ricky mencontohkan bahwa saham termurah di pasar reguler mulai dari Rp5.000 dan pembukaan rekening investasi hanya membutuhkan KTP serta rekening tabungan. Ia juga mengingatkan mahasiswa agar berhati-hati agar tidak terjebak investasi ilegal. BEI mengampanyekan prinsip 2L: Legal dan Logis. Legal berarti terdaftar di (Otoritas Jasa Keuangan) OJK atau BEI, sedangkan Logis menilai apakah penawaran keuntungan masuk akal.
Sementara itu, Kepala Tata Usaha UPTD Persampahan DLH Sultra, Hamrillah, menyebut pengelolaan sampah berbasis aset dan investasi merupakan inovasi menarik. Ia mencontohkan produk ecoprint yang mereka hasilkan dari limbah racik uang kertas bekerja sama dengan Bank Indonesia.
“Saya ingin membuka wawasan adik-adik bahwa sampah bisa menjadi aset menjanjikan jika terus berinovasi,” jelasnya. (**)
Reporter: Malika







Komentar