Masyarakat Sultra Diimbau Waspadai Peredaran Uang Palsu Jelang Nataru

HarianPublik.id,Kendari – Momentum Natal dan Tahun Baru (Nataru) selalu diiringi dengan peningkatan aktivitas ekonomi masyarakat yang berdampak pada kenaikan transaksi di berbagai barang dan jasa. Hal itu juga berisiko dimanfaatkan oleh pihak pihak yang tidak bertanggungjawab untuk mengedarkan uang palsu atau upal.

Oleh karena itu, Bank Indonesia (BI)
Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) menghimbau masyarakat untuk tetap waspada terhadap peredaran upal tersebut.

Hal itu seperti yang disampaikan Kepala Kantor Perwakilan BI Sultra, Doni Septadijaya, pada Selasa (17/12/2024).

Dia menjelaskan bahwa di tahun 2024, temuan upal di Sulawesi Tenggara mengalami peningkatan sebesar 24% dibandingkan tahun 2023, atau mencapai 449 lembar. Temuan ini berasal dari
klarifikasi perbankan, Penyedia Jasa Pengelolaan Uang Rupiah (PJPUR), loket penukaran BI, dan laporan masyarakat ke loket BI.

“Namun berkat kerjasama yang erat dalam kerangka Badan Koordinasi pemberantasan rupiah palsu, aparat penegak hukum telah menindak tegas kasus tindak pidana upal. Diantaranya pada kasus temuan 23 lembar upal di Polresta Kendari,” ungkap Doni.

Ia menyebutkan, pada Bulan Mei sebanyak 49 lembar temuan upal di Polres Kolaka Timur, pada Oktober temuan 16 lembar uang yang diragukan keasliannya serta di awal Desember ditemukan kasus penangkapan pengedar upal yang menyasar warung-warung kecil di Konawe Selatan.

“Sebagai upaya preventif, BI Sultra berkomitmen untuk terus mengedukasi masyarakat melalui program Cinta, Bangga, Paham Rupiah (CBP Rupiah) dengan mengenalkan ciri-ciri keaslian uang secara langsung maupun melalui berbagai kanal media komunikasi,” ungkap Doni.

Untuk diketahui, sepanjang tahun 2024 telah dilakukan 272 kegiatan secara luring dengan total 459 ribu peserta, dan 114 kegiatan secara daring dengan total engagement mencapai 796 ribu views. BI Sultra juga turut mendukung partisipasi masyarakat dalam pencegahan peredaran uang palsu melalui pelaporan temuan uang yang diragukan keasliannya kepada pihak berwenang dan Bank Indonesia Sultra. (**)

Komentar