Harianpublik.id,Kendari – Bertepatan dengan momentum Hari Hari Agraria dan Tata Ruang (Hantaru) ke 62 tahun 2022, Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Sulawesi Tenggara (Sultra) memberi penghargaan kepada petani milenial dan petani andalan, pada Minggu (25/9/2022).
Pasalnya, petani yang menerima penghargaan tersebut diharapkan menjadi motivasi dan pembangkit semangat aga bisa meningkatkan hasil produksi mereka. Bukan hanya petani penerima penghargaan tetapi juga petani lainnya.
“Penghargaan ini sebagai stimulus bagi petani, semoga semangat mereka bisa menular ke petani petani lainnya. HKTI hadir untuk membantu petani dan pemerintah dalam rangka melakukan upaya-upaya stimulus untuk meningkatkan produksi pertanian,” ungkap Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) HKTI Sultra, Mayjen TNI (Purn) Andi Sumangerukka.
Sambung dia, petani di Sultra diharapkan dapat meningkatkan hasil produksinya. Oleh karena itu, stimulus senantiasa diberikan salah satunya dengan memberi penghargaan.
“Kita juga bantu melalui pendampingan dan nantinya dengan pendampingan tersebut hasil yang di dapatkan bisa meningkatkan menjadi 4,5 sampai 6 ton,” ujar pria yang akrab disapa ASR itu.
Dia menyebutkan bahwa salah satu program kerja HKTI adalah pendampingan kepada petani. Apalagi saat ini, sudah banyak petani milenial di Sultra. Namun mereka belum begitu tertarik untuk bertani.
“HKTI hadir untuk mengedukasi para petani milenial agar mereka punya kemampuan dan tertarik untuk bertani,” pungkas ASR.
Sementara itu, Mudianto salah seorang petani milenial asal Kabupaten Kolaka, menuturkan bahwa dirinya bergerak di bidang pengelolaan kakao. Yakni melakukan pemilihan biji kakao basah yang dibeli langsung dari petani yang ada di Kabupaten Kolaka.
Selanjutnya, tambah dia, kakao tersebut difermentasi, sehingga biji yang dihasilkan benar-benar berkualitas dan diolah menjadi cemilan yang rasanya berbeda dengan kakao lain.
“Produk yang kami hasilkan sudah dijual online dan terkadang ada pesanan dari SKPD terkait dan kami jual di toko swalayan dan di Antam juga,” katanya.
Di tempat yang sama petani milenial asal Kecamatan Poleang Utara, Kabupaten Bombana, Yusrang menambahkan bahwa dirinya menggeluti pertanian yang bergerak di bidang holtikultura.
Dia bertani di bidang holtikultura sudah berjalan sejak lima tahun yang lalu. Dimana untuk membuka pasar dirinya terus berusaha menghasilkan produksi yang baik.
“Karena orang di kabupaten atau provinsi lain tidak akan tertarik jika produksi kita standar, apa lagi terkadang biaya transportasi menjadi pertimbangan,” cetusnya.
Untuk itu, Yusrang mengajak orang lain untuk membuka mindset pemuda, bahwa seorang milenial tidak mesti bekerja di perusahaan atau instansi.
“Alhasil sekarang hasilnya bisa dibilang memuaskan dan terus mengalami peningkatan yang sangat signifikan dari tahun ke tahun,” tutupnya. (**)













Komentar