Harianpublik,Jakarta – Menjelang Hari Ulang Tahun ke-80 Kemerdekaan Republik Indonesia, publik dikejutkan oleh dua fenomena viral yang menunjukkan kontras tajam dalam ekspresi nasionalisme. Di satu sisi, viralnya pesan mendalam Ir. Soekarno dalam sebuah foto keluarga berhasil menyentuh jutaan hati warga Indonesia. Namun di sisi lain, justru tren pengibaran bendera bajak laut dari serial anime One Piece semakin marak dikibarkan jelang 17 Agustus, bahkan sampai menjadi sorotan media internasional.
Foto bersejarah tersebut ditemukan oleh Ross, cucu dari seorang kakek yang wafat di usia 100 tahun 4 bulan. Dalam video TikTok yang diunggahnya pada 6 Juni 2025 melalui akun @I’m Ross, terlihat jelas foto keluarga Bung Karno yang tersimpan rapi dalam album tua.
Di bawah foto itu, terdapat pesan tangan asli Bung Karno yang berbunyi: “Saya mencintai keluarga saya, tetapi saya lebih mencintai negeri saya. Jika disuruh memilih, saya lebih memilih kepentingan negeri”.
Video tersebut menjadi viral dalam waktu singkat, ditonton lebih dari 8 juta kali dan menginspirasi banyak komentar yang memuji keteladanan sang proklamator. Bagi banyak orang, pesan itu menjadi tamparan lembut, mengingatkan pentingnya menempatkan kepentingan bangsa di atas kepentingan pribadi.
Namun, pesan yang seharusnya membakar semangat nasionalisme itu terasa kontras dengan kenyataan di lapangan. Di berbagai daerah, justru bendera bajak laut One Piece simbol fiksi dari anime Jepang, ramai dikibarkan di rumah warga, kendaraan, bahkan mahasiswa di berbagai universitas.
Fenomena ini tidak hanya viral di Indonesia, tetapi juga mulai diliput oleh sejumlah media luar negeri seperti Japan Times, South China Morning Post, hingga BBC Asia, yang menyoroti tren tidak lazim ini dalam konteks perayaan kemerdekaan sebuah negara.
Sorotan media internasional ini memperlihatkan bagaimana absurditas tren ini tidak hanya mengusik logika nasional, tetapi juga menjadi tontonan publik dunia. Negara yang dikenal berdaulat dan merdeka, justru terlihat kebingungan dalam mengekspresikan identitasnya sendiri.
Di kutip dari situs berita Teropong Senayan, Anggota Komisi I DPR RI, Mayjen TNI (Purn) Dr. TB Hasanuddin, menilai fenomena ini sangat memprihatinkan dan menunjukkan lemahnya pemahaman sebagian generasi muda terhadap makna kemerdekaan.
“Saya prihatin. Bendera Merah Putih adalah simbol perjuangan, bukan sekadar kain. Ia diperjuangkan dengan darah, air mata, dan nyawa. Mengibarkan bendera fiksi, apalagi saat Hari Kemerdekaan, sangat tidak pantas,” tegasnya, pada Selasa (5/8/2025).
Ia juga menambahkan bahwa tindakan tersebut berpotensi melanggar Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2009 tentang Bendera, Bahasa, dan Lambang Negara, khususnya Pasal 7 yang mewajibkan pengibaran Bendera Negara pada setiap tanggal 17 Agustus.
Menurut TB Hasanuddin, jika niat masyarakat adalah menyuarakan kritik terhadap pemerintah atau menyampaikan aspirasi soal ketidakadilan, seharusnya dilakukan dengan cara yang konstitusional dan tidak menyimpang dari simbol-simbol nasional.
“Kita hidup dalam negara demokrasi. Kritik itu boleh, tapi gunakan cara yang beradab dan substansial. Jangan mengibarkan simbol fiksi yang malah menyesatkan dan melemahkan kesadaran nasional,” ujarnya.
Fenomena ini menimbulkan pertanyaan serius. Apakah generasi saat ini benar-benar memahami arti kemerdekaan? Saat pesan asli Bung Karno viral di media sosial, justru yang terlihat di lapangan adalah bendera dari dunia fiksi yang lebih banyak dikibarkan daripada Merah Putih.
Foto peninggalan Bung Karno seolah menjadi pengingat sekaligus sindiran keras. Di tengah gempuran budaya luar dan tren digital, pesan nasionalisme mulai tenggelam oleh popularitas karakter anime. Ironisnya, dunia luar kini ikut menyaksikan bagaimana bangsa ini merayakan kemerdekaan dengan simbol asing.
“Mari kibarkan Merah Putih dengan penuh kesadaran. Jangan nodai perjuangan para pahlawan dengan simbol hiburan. Dunia sedang menonton, dan saat ini, yang mereka lihat bukan semangat kemerdekaan, tapi bendera bajak laut yang berkibar di tanah yang pernah diperjuangkan dengan darah,” tutup TB Hasanuddin. (**)
Penulis: Ismi Azizah













Komentar