Harianpublik.id,Bombana – Waktu terus berjalan. Memasuki September 2026, kondisi Jalan Poros Mata Oleo masih menjadi keluhan masyarakat. Di tengah musim kemarau, ruas jalan tersebut kini berselimut debu, sementara pembangunan sepanjang 10 kilometer yang sebelumnya dipastikan akan dikerjakan pada tahun anggaran 2026 belum terlihat terealisasi di lapangan.
Berdasarkan pantauan di lapangan, permukaan jalan masih didominasi tanah dan pasir. Debu beterbangan ketika kendaraan melintas, sementara kondisi permukaan jalan yang tidak rata membuat pengendara harus ekstra berhati-hati.
Situasi itu kembali menjadi perhatian karena pada awal tahun lalu, tepatnya 16 Januari 2026, Ketua DPRD Kabupaten Bombana, Iskandar, S.P., menyampaikan kepastian pembangunan Jalan Poros Mata Oleo sepanjang 10 kilometer.
Kepastian tersebut disampaikan Iskandar setelah melakukan koordinasi langsung dengan pihak terkait di tingkat Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara. Saat itu, ia menyebut ruas Jalan Poros Mata Oleo telah masuk dalam program pembangunan tahun anggaran 2026 dan ditargetkan dikerjakan sepanjang 10 kilometer.
Bagi masyarakat, kabar tersebut sempat menjadi harapan baru setelah bertahun-tahun menghadapi kondisi jalan yang rusak dan sulit dilalui.
Namun, sembilan bulan kemudian, kondisi di lapangan kembali memperlihatkan kenyataan yang berbeda. Jalan masih berupa tanah, debu masih menjadi teman perjalanan, sementara waktu terus bergerak mendekati penghujung tahun.
Keluhan masyarakat pun kembali mencuat. Warga harus tetap menggunakan akses tersebut untuk menjalankan aktivitas sehari-hari, mulai dari bekerja, mengangkut hasil pertanian, hingga mengakses pendidikan dan pelayanan kesehatan.
” Pada musim kemarau, persoalan bertambah dengan munculnya debu yang beterbangan setiap kali kendaraan melintas. Kondisi ini tidak hanya mengganggu perjalanan Kami, tetapi juga membuat Kami sebagai warga Mataoleo kembali mempertanyakan kapan akses jalan yang telah lama mereka nantikan benar-benar mendapatkan penanganan? “, keluh salah seorang warga.
Masyarakat tentu memahami bahwa pembangunan infrastruktur membutuhkan proses, mulai dari perencanaan, penganggaran hingga pelaksanaan. Namun, setelah adanya kepastian bahwa pembangunan 10 kilometer tersebut masuk dalam program tahun 2026, warga kini membutuhkan perkembangan dan kepastian terbaru.
Sebelumnya, Iskandar juga menegaskan bahwa DPRD Bombana akan terus mengawal proses tersebut hingga selesai.
“Kami akan terus mengawal proses ini sampai selesai. Masyarakat tentu berharap pembangunan yang dilakukan benar-benar berkualitas dan memberikan manfaat nyata. Karena itu, pengawasan harus dilakukan secara serius,” ujarnya.
Pernyataan itu kini kembali menjadi perhatian seiring belum terlihatnya pekerjaan fisik di lapangan.
Bagi masyarakat Mata Oleo, pembangunan jalan bukan sekadar persoalan memperbaiki permukaan jalan. Akses yang layak berarti memudahkan pergerakan warga, memperlancar distribusi hasil pertanian, menekan biaya transportasi, serta membuka akses yang lebih baik terhadap pendidikan, kesehatan dan aktivitas ekonomi.
Sembilan bulan telah berlalu sejak kepastian pembangunan disampaikan. Kini 2026 tinggal menyisakan beberapa bulan.
Di tengah debu yang masih menyelimuti Jalan Poros Mata Oleo, masyarakat kembali menunggu satu hal yang paling mereka butuhkan, bukan sekadar kepastian di atas kertas, tetapi pekerjaan yang benar-benar terlihat di lapangan. Sebab bagi warga, waktu terus berjalan, sementara jalan yang mereka lalui setiap hari masih belum banyak berubah. (**)
Penulis: Ismi Azizah







Komentar