Doti: Dari Bayang-Bayang Santet Menuju Semangat Doa dan Ikhtiar

Oleh: Redaksi

OPINI: Setiap daerah memiliki khazanah budaya yang membentuk cara pandang masyarakat terhadap kata, simbol, dan makna. Di Wawonii, salah satu istilah yang cukup dikenal adalah doti. Dalam pemahaman yang berkembang di tengah masyarakat, doti sering dikaitkan dengan santet atau praktik yang dipercaya bekerja melalui kekuatan tak kasat mata. Ia hadir dalam cerita-cerita lama, menjadi bagian dari folklore lokal, dan hidup dalam ingatan kolektif masyarakat selama bertahun-tahun.

Karena itu, ketika istilah Doti diperkenalkan sebagai akronim dari Doa dan Ikhtiar, publik secara alami memberikan perhatian lebih. Bukan semata karena bunyinya yang familiar, tetapi karena istilah tersebut membawa dua makna yang berada pada kutub yang berbeda. Yang satu lahir dari persepsi tentang ketakutan, sementara yang lain dibangun di atas fondasi harapan.

Di sinilah menariknya sebuah gagasan. Sebuah kata yang selama ini identik dengan bayang-bayang masa lalu dicoba untuk dihadirkan kembali dengan semangat yang baru. Dari simbol yang sering diasosiasikan dengan upaya mencelakai, menjadi simbol yang mengajak masyarakat untuk berdoa, bekerja, dan percaya pada masa depan.

Transformasi makna ini sesungguhnya bukan hal baru dalam perjalanan sebuah peradaban. Banyak istilah yang mengalami perubahan seiring perkembangan zaman dan kebutuhan masyarakat. Yang terpenting bukanlah bagaimana sebuah kata lahir, melainkan nilai apa yang ingin ditanamkan melalui kata tersebut.

Dalam konteks pembangunan, Doa dan Ikhtiar memiliki pesan yang sederhana namun mendalam. Doa mengingatkan manusia akan pentingnya kerendahan hati dan keyakinan kepada Tuhan. Sementara ikhtiar menegaskan bahwa harapan tidak akan pernah terwujud tanpa kerja keras, keberanian mengambil langkah, dan kesediaan menghadapi tantangan.

Nilai-nilai itu sesungguhnya sangat dekat dengan kehidupan masyarakat Wawonii. Sebagai masyarakat kepulauan, mereka memahami bahwa setiap harapan selalu membutuhkan perjuangan. Nelayan tidak cukup hanya berdoa untuk mendapatkan hasil tangkapan yang baik; mereka harus berlayar menembus ombak dan cuaca yang tidak selalu bersahabat. Petani tidak cukup hanya berharap panen yang melimpah; mereka harus mengolah tanah, menanam, dan merawat tanaman dengan penuh kesabaran.

Karena itu, Doa dan Ikhtiar bukanlah konsep yang asing. Ia adalah cerminan dari cara hidup masyarakat itu sendiri.

Namun sebuah slogan, sebaik apa pun maknanya, tidak akan memiliki arti apabila berhenti pada tataran retorika. Masyarakat pada akhirnya tidak akan menilai dari seberapa indah sebuah akronim dirangkai. Mereka akan menilai dari hasil yang mereka rasakan dalam kehidupan sehari-hari.

Apakah pembangunan berjalan lebih merata? Apakah pelayanan publik semakin baik? Apakah kesempatan ekonomi semakin terbuka? Apakah kesejahteraan masyarakat semakin meningkat?

Pertanyaan-pertanyaan itulah yang akan menentukan apakah Doti benar-benar menjadi semangat perubahan atau sekadar slogan yang berlalu bersama waktu.

Pada akhirnya, makna sebuah kata tidak ditentukan oleh sejarahnya, melainkan oleh bagaimana kata itu diwujudkan dalam tindakan. Jika dahulu doti dikenal sebagai sesuatu yang bekerja dalam ruang-ruang gelap kepercayaan masyarakat, maka Doa dan Ikhtiar dituntut untuk bekerja di ruang yang terang: melalui kerja nyata, pelayanan yang baik, dan pembangunan yang dapat dirasakan oleh seluruh rakyat.

Sebab masa depan sebuah daerah tidak dibangun oleh mitos, melainkan oleh keyakinan, kerja keras, dan keberanian untuk berubah.

Dan mungkin di situlah letak makna terdalam dari Doti hari ini: bukan lagi tentang bayang-bayang yang menakutkan, melainkan tentang harapan yang diperjuangkan bersama menuju Konawe Kepulauan yang lebih maju, lebih sejahtera, dan lebih bermartabat.***

Komentar