Keterbatasan Tak Surutkan Tekad Ustadz Samsul untuk Berbagi Manfaat

HarianPublik.id – Guru mengaji dalam istilah agama biasa disebut ustadz adalah orang mengajarkan ilmu keislaman dalam masyarakat. Sosok guru mengaji biasanya dianggap sebagai figur intelektual dalam mengajarkan membaca Alquran.

Maka guru mengaji merupakan pahlawan Al-Quran yang tidak mengharap ganjaran, berdedikasi dalam memberikan ilmu agama bagi masyarakat di sekitarnya. Semangat dan ketulusan tak pernah berhenti memberi manfaat, meski dibalut keterbatasan.

Seperti sosok guru ngaji yang sudah sejak lama mengabdikan diri di tengah keterbatasannya. Kenalkan, beliau adalah Ustadz Samsul. Ia lahir 27 Juli 1988 silam di Kelurahan Mangga Dua, Kota Kendari Sulawesi Tenggara. Dia anak ketujuh dari tujuh bersaudara. Pasalnya, putra dari pasangan Alm. Langkutene dan Wanida ini memutuskan berhijrah sejak 2008 yang lalu.

Dengan keterbatasan biaya, Ustadz Samsul memutuskan mengambil pilihan pesantren di Mesjid An-Nur Kota Kendari dan berhasil menjadi penghafal atau Hafidz Qur’an selama tiga tahun.

Tepatnya di 2013, sang ustadz kembali menempuh jalur berdakwah di Mesjid Abu Bakar depan Kampus Universitas Halu Oleo (UHO) Kendari.

Selang setahun dirumahkan sambil berdakwah di jalan Allah , Ustadz Samsul mendapat amanah untuk melanjutkan pengabdian di jalan Allah dengan ditugaskan sebagai Guru Ngaji dan Imam Mesjid Al-Furqon, Desa Kawa-Kawali, Konawe Kepulauan.

Walau dengan keterbatasan sejak 2018, ia tetap istiqomah di jalan Allah. Kini, Ustadz Samsul diamanahkan mengajar santri di Kelurahan Langara Laut, Konawe Kepulauan. Dirinya tetap optimis sampai Allah memberikan yang terbaik dari buah perjuangannya di jalur dakwah.

“Jangan pernah putus asa dalam menjalani hidup karena Allah tau kapan waktu yang tepat untuk menyempurnakan ibadahmu,” tutur Ustadz Samsul dalam candanya. (**)

Komentar