Harianpublik.id – Terhitung kurang satu tahun lagi, tepatnya 14 Februari 2024, pemungutan suara pemilu 2024 akan dilaksanakan. Kurang setahun menjelang momen penting dalam pesta demokrasi Indonesia itu, partisipasi para pemilih muda, terlebih pemilih pemula, juga mendapat perhatian dari penyelenggara pemilu maupun para kandidat dan partai politik.
Dalam segi jumlah pemilih muda memang cukup menggiurkan dari segi persentase suara yang bisa diraih. Dan dipastikan lembaga partai politik manapun akan tergiur dengan angka presentasi tersebut. Dalam data yang yang disuguhkan oleh lembaga Centre for Strategic and Internasional Studies (CSIS), Jumlah pemilih muda berusia 17-39 tahun diproyeksikan mencapai 54 persen. Bila dihitung dari total jumlah pemilih yang mencapai 190.022.169, maka pemilih muda itu mencapai jumlah 102.611.971.
Tingkat partisipasi pemilih muda antara pemilu 2014 ke pemilu 2019 sebenarnya meningkat. Data CSIS yang dihasilkan dari survei pada Agustus 2022 itu menyebutkan, partisipasi memilih pada tahun 2014 mencapai 85,9 persen. Pada pemilu 2019, partisipasi itu meningkat menjadi 91,3 persen.
Akan tetapi, dalam kurun empat tahun ini, dukungan pemilih muda dalam demokrasi mengalami penurunan. Apalagi, aktivitas politik yang diminati adalah menyampaikan sikap politik melalui media sosial dibandingkan berpartisipasi dalam pemilihan.
“Memang menarik. Berbagai studi, tidak hanya di Indonesia, menyatakan bahwa pemilih muda punya kecenderungan tingkat partisipasinya lebih rendah. Tetapi, suara mereka potensial bagi parpol dan kandidat, karena kebanyakan dari mereka merupakan undecided voters, belum menentukan pilihan sampai sekarang,” kata Pengamat Politik dari Universitas Padjajdaran, Firman Manan.
Dari rentang usia pemilih muda 17-39 tahun, usia 17-23 merupakan generasi Z yang di dalamnya ada pemilih pemula. Sementara, mereka yang nanti berusia 24-39 tahun adalah generasi Y atau milenial. Firman mengatakan, berbeda dengan usia yang lebih senior, pemilih muda ini belum memiliki keterikatan dengan parpol tertentu atau kandidat tertentu. Karena itu, mereka dinilai juga sebagai swing voters yang pilihannya masih terayun antara berbagai pilihan yang ada.
Strategi KPUD Konkep untuk meningkatkan partisipasi pemilih pemula menanamkan pemahaman tentang pemilu dan pilkada kedepan. Pada pemilihan nanti tidak bisa hanya dengan satu langkah saja, terlebih untuk pemilih pemula yang kritis dan cenderung labil. Proses pengenalan, pembiasaan, hingga penerapan memerlukan banyak strategi nyata dilapangan. Strategi-strategi itupun memakan waktu yang tidak sedikit mengingat selalu ada isu baru atau perubahan relugalasi dan teknis pelaksanaanya.
Dalam meningkatkan partisipasi pemilih pemula, program sosialisasi KPU goes to school cukup menarik perhatian. Dimana KPU Konkep bisa bekerjasama dengan beberapa sekolah tingkat menengah untuk dapat bertemu langsung dengan calon pemilih pemula dan melakukan strategi komunikasi mengenai isu-isu demokrasi. Media yang sesuai untuk kegiatan ini adalah penayangan video, penyebaran poster, dan bermain game berhadiah ringan.
Selain itu, program KPUD Konkep kedepan salah satunya adalah sosialisasi kepada beberapa organisasi profesi, diantaranya profesi guru/PGRI guna menggenjot pemilih pemula yang sadar akan pentingnya pemilu dan pilkada. Banyak warga masyarakat datang kepada guru untuk mendapatkan solusi segala permasalahan. Guru juga dipercaya sebagai tokoh masyarakat seperti RT,RW, pengurus DKM, dan lain sebagainya.
Oleh karena itu, KPU menyadari benar bahwa guru merupakan agen informasi yang sangat terpercaya baik dilingkungan kerja maupun dilingkungan tempat tinggalnya. Sehingga guru banyak dilibatkan dalam kegiatan tahapan seperti sosialisasi dan pembentukan badan Adhok.
Disisi lain, KPU Konkep kedepan harus memiliki program sosialisasi kepada tokoh pemuda, tokoh masyarakat, tokoh agama, tokoh perempuan, serta tokoh lainnya masih dianggap cukup efektif untuk pemerataan informasi. Tokoh-tokoh disini pastinya yang dianggap memiliki kapasitas untuk dapat menyebarkan kembali informasi yang didapatnya dan menggiring pemilih untuk hadir di TPS. Khusus pemilih pemula diperlukan peran aktif dari para tokoh dalam memberikan penjelasan, bimbingan serta ajakan yang ramah dan informatif. Sebagai seorang pemula mereka akan merasa dihargai dan tertarik jika para tokoh langsung yang terlibat mendorong partisipasi ini.
Selain dengan strategi tatap muka langsung, KPU Konkep juga menyiapkan berbagai akun resmi media sosial dari berbagai platform; diantaranya Youtube, facebook, instagram, podcast, tiktok, twitter, yang dapat diakses oleh masyarakat kapan dan dimanapun. Dengan konten pemberitaan yang menarik dan terkini, diharapkan akan memberikan pencerahan pada pemilih pemula yang selama ini aktif di media sosial. Pengemasan konten telah melalui tahap verifikasi kelayakan yang mempertimbangkan sisi informasi dan edukasi. Nara sumber yang dihadirkan pun dipercaya memiliki kewenangan dibidangnya masing-masing.
Kedepan, dengan kemampuan anggaran yang cukup, tidak menutup kemungkinan KPUD Konkep melakukan program program kreatif yang menarik untuk pemilih pemula, seperti lomba menjadi presenter podcast, lomba fotografi, membuat video edukasi pemilu, dan lain sebagainya. Selain informatif dan memerlukan keterampilan khusus, jenis-jenis lomba ini lebih kearah hiburan ringan yang banyak diminati anak muda. (**)
Penulis: Staf Bawaslu Kabuputen Konawe Kepulauan







Komentar