Harianpublik.id,Kendari – Pemerintah Kota (Pemkot) Kendari sedang menyusun Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS) dalam Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) kawasan strategis Terminal Baruga-Puuwatu.
Rapat pembahasan KLHS itu kembali digelar di Aula Samaturu, Balaikota Kendari, pada Selasa (7/11/2023).
Rapat ini dihadiri oleh Sekertaris Daerah Kota Kendari, Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kota Kendari, Pimpinan Origanisasi Prangkat Daerah, perwakilan organisasi profesi, serta para camat dan lurah dari Kecamatan Baruga, Puuwatu, Wua-Wua dan Kadia.
Tujuan dari penataan ruang KLHS ini yaitu untuk mewujudkan kawasan strategis terminal Baruga – Puuwatu sebagia pintu gerbang Kendari berbasis perdagangan dan jasa yang berketahanan.
Pada rapat isu strategis kawasan ini membahas beberapa hal kawasan dengan kriteria kawasan strategis Terminal Baruga-Puuwatu sebagi bagian dari PKN Kendari. Dimana membutuhkan pengembangan Ruang Terbuka Hijau seluas 12.232,16 Ha. Selain itu, terdapat simpul strategis terminal tipe A, terminal tipe B dan dilalui arteri primer yang menghubungkan Bandara Halu Oleo. Selanjutnya arah perkembangan kawasan perkotaan sebagai kawasan transit.
Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kota Kendari, Cornelius Padang menjelaskan, ada 8 RDTR kawasan strategis Kota Kendari Terminal Baruga – Puuwatu.
“Dari 8 RDTR kawasan itu diantaranya, Terminal Baruga dengan skala terminal tipe A, rencana lintasan ruas jalan lingkar luar (outer ring road), Tempat Pengelohan Akhir (TPA) yang berskala lokal, lintasan jalan nasional dari arah Kabupaten Konawe, Kolaka, arah Bandara Halu Oleo, arah Kabupaten Konsel dan Bombana,” paparnya.
“Selanjutnya, sarana kesehatan yang cukup memadai, fasilitas pendidikan tinggi, fasilitas perekonomian yang lengkap dan yang terakhir kegiatan ekonomi yang berkembang,” sambung Cornelius Padang.
Cirnelius menambahkan, dalam rapat itu juga membahas sejumlah permasalahan. Yaitu belum berfungsinya secara optimal terminal tipe A, belum selesainya pembangunan jaringan ruas jalan lingkar luar, belum terciptanya sistem transportasi yang terintegrasi antara modal baik pada pusat-pusat aktivitas ekonomi dan aktivitas sosial, kasih masa yang belum keterjangkauan sistem transportasi massal yang belum terintegrasi dengan baik, belum terjangkaunya pelayanan perpipaan PDAM Kota Kendari, tingginya produksi timbunan limbah sampah, dan masih adanya kawasan rawan bencana banjir. (**)
Penulis: Elis/Fatma







Komentar