Harianpublik.id,Konawe Kepulauan – Wilayah Konawe Kepulauan (Konkep), Sulawesi Tenggara (Sultra) dikenal dengan penghasil kelapa dan rempah rempah. Selain itu, secara geografis hampir setengah pulau itu terdiri dari lautan. Sehingga warganya yang mayoritas dihuni suku Wawonii, sebagian besar berprofesi sebagai nelayan. Dimana laut adalah sumber kehidupan mereka.
Namun kini kondisi perairan laut yang menjadi area tangkap para nelayan sedang menghadapi masalah, sehingga membuat populasi ikan jauh berkurang dan tentu mempengaruhi jumlah tangkapan ikan bagi nelayan.
Penyebab utamanya penangkapan ikan yang tidak ramah lingkungan, diantaranya adalah penggunaan bahan peledak atau bom yang marak, sehingga merusak ekosistem laut seperti terumbu karang. Tak heran, kini Pulau Wawonii terancam krisis ikan.
Pasalnya, praktek pemboman itu tidak hanya merusak terumbu karang dan biota laut, tetapi juga merampas hak nelayan kecil. Akibat pengeboman di lokasi itu membuat ikan berkurang drastis, sehingga nelayan setempat banyak yang mengeluh.
Salah seorang Nelaya Bajo Langara, bernama Romi Muis mengatakan bahwa dulu ikan di Wawonii khususnya di Langara sangat melimpah dan luar biasa banyaknya. “Akan tetapi sekarang sudah susah kita dapatkan ikan,” ucapnya saat ditemui media ini beberapa waktu lalu.
“Kondisi itu menambah beban biaya bagi kami para nelayan untuk melaut. Untuk mendapatkan ikan, kami harus menguras dompet untuk membeli bahan bakar kalau mau keluar memancing karna ikannya sudah jauh,” terang Romi.
Padahal, penghuni Pulau Kelapa itu lebih banyak mengkonsumsi ikan dibanding makanan lainnya. Penurunan populasi ikan di Pulau Wawonii disebabkan banyaknya terumbu karang yang rusak akibat adanya pengrusakan dengan bahan peledak, dan penangkapan ikan secara besar-besaran yang mengakibatkan jumlah populasinya semakin menurun. Sehingga berdampak pada ketergantungan tingkat konsumsi warga yang sangat tinggi. (Red)










Komentar